Sabtu, 16 Juli 2011

Dengan Dakwah Iman akan Terbentuk

     Usaha dakwah adalah usaha merubah keyakinan dari yakin terhadap asbab baik yang bergerak maupun yang diam. menjadi yakin hanya kepada Allah SWT. Apabila usaha ini dilakukan maka akan timbul pengharapan yang benar hanya kepada Allah SWT. Dengan dakwah iman akan meningkat dan akan merubah keadaan. Bila usaha dakwah dihentikan, maka suasana dan keadaan akan bertentangan dengan diri kita. Demikian pula ketika dakwah dilakukan, awalnya keadaan akan bertentangan, namun hanya sementara. Apabila terus dibuat maka Allah SWT akan memberikan keputusan dengan dua cara ; orang - orang mendapat hidayah atau dibinaskan oleh Allah SWT.
     Para Anbiya a.s. berdakwah kepada kaumnya, sehingga orang - orang beriman. Namun setelah nabinya wafat, berangsur - angsur orang menjadi musyrik kembali sehingga tidak tersisa satupun orang yang taat. Akhirnya dimusnahkan oleh Allah SWT, kemudian Allah SWT mengutus nabi lagi, lalu ia menjalankan usaha dakwah, sehingga tatanan masyarakat pun kembali baik. Tetapi setelah nabinya wafat, keadaan masyarakat kembali rusak. Demikianlah seterusnya, nabi berganti nabi, tetapi ketika nabinya meninggal perlahan - lahan amal agama berkurang sampai anak cucu mereka. Sebab usaha dakwah berhenti ketika nabinya meninggal, karena tugas dakwah hanya tugas nabinya tidak dibebankan kepada kaumnya.
     Seluruh anbiya a.s. yang diutus ke dunia ini mengajarkan iman, mengajak taat kepada Allah SWT, maka siapa saja yang mengikuti jalan para nabi a.s. maka ia akan sukses. Dan orang - orang yang tidak mengikuti kehidupan nabi dan rasulnya, bahkan menentangnya, akan merasakan adzab di dunia, dan di akhirat kelak ia akan dimasukkan oleh Allah SWT kedalam Neraka Jahannam.
     Kehidupan seluruh Anbiya a.s. dan para sahabat r.a. dikorbankan untuk berdakwah. Rasulullah SAW bersabda yang mahfumnya, "Diantara orang - orang sebelum kalian, ada yang digalikan sebuah lubang untuknya lalu ia dimasukkan kedalamnya, kemudian diletakkan sebuah gergaji diatas kepalanya dan diapun dibelah menjadi dua bagian. Ada pula yang disisir badannya dengan sisir besi hingga kulit dan dagingnya terkelupas, namun semua itu tidak menghalangi mereka dari Dien mereka." (HR. Bukhori).
     Bagaimana penderitaan Bilal r.a. yang ditindih dengan batu besar ditengah padang  pasir ketika matahari sedang terik membakar kulit. Kemudian dicambuk badannya terus menerus. Bagaimana pedihnya penyiksaan yang dialami Khabbab bin al Arat r.a., tubuhnya diseret diatas timbunan bara api sehingga lemak dan darah yang mengalih dari tubuhnya memadamkan bara api itu. Bagaimana keluarga Ammar bin Yasir r.huma, ayahnya mati dalam penyiksaan dan ibunya, Summayah r.ha wanita pertama dikalangan sahabiyah yang mati syahid, kemaluannya ditikam hingga kedadanya oleh abu jahal. Akan tetapi bukan berarti Allah SWT tidak mencintai mereka, karena pengorbanan mereka akan diganti dengan Jannah Allah SWT, 

¨bÎ) ©!$# 3“uŽtIô©$# šÆÏB šúüÏZÏB÷sßJø9$# óOßg|¡àÿRr& Nçlm;ºuqøBr&ur  cr'Î/ ÞOßgs9 sp¨Yyfø9$# 4 š""
""""''kinkn
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang - orang beriman diri dan harta mereka dengan  memberikan Jannah untuk mereka" (QS. at Taubah : 111)1

Senin, 11 Juli 2011

Usaha Atas Iman

Di dunia ini ada 2 usaha. yang pertama adalah usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) atau menghasilkan kebendaan-kebendaan, dan usaha yang kedua adalah untuk menghasilkan perkara yang ghoib (tidak nampak).

Usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) atau usaha untuk menghasilkan kebendaan-kebendaan yaitu dengan perdagangan orang bisa mendatangkan keuntungan, dengan pertanian orang bisa mendatangkan hasil dari pertanian, dengan perkantoran orang bisa mendapatkan gaji, dengan pemerintahan orang bisa mendapatkan jabatan, dsb. Maka hari ini hampir semua manusia telah buat usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi, dan manusia menyangka bahwa dengan menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) maka manusia akan mendapatkan kebahagiaan, sehingga manusia rela bekerja siang dan malam tanpa mengenal lelah untuk mendapatkan penghasilan yang dzohir (nampak) tadi, bahkan ada sebagian manusia yang menggunakan segala macam cara baik yang dikehendaki Allah bahkan yang dilarang oleh Allah SWT semata-mata untuk mendapatkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi. Bahkan manusia rela mengorbankan satu keinginan untuk keinginan yang lain yaitu menuju usaha yang menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi. Seorang pegawai ketika waktu pagi hari sedang asik bercanda dan bermain dengan anak dan istri di rumah, ketika sedang asik-asiknya bermain maka tiba waktu dia harus ke kantor, maka dia rela korbankan kepentingan bersama anak dan istrinya untuk menuju kepada kantor dia. Seorang tentara ketika sedang asik bercanda dan bermain dengan anak dan istrinya di rumah, maka ketika datang perintah dari komandan untuk pergi tugas ke tempat yang jauh meninggalkan anak dan istrinya di rumah, maka dia pun siap mengorbankan waktu bersama anak dan istrinya kemudian menuju kepada perintah komandan tadi. Karena hari ini manusia yakin bahwa dengan perkara-perkara yang dzohir (nampak) maka akan ada kebahagiaan.

Allah SWT pencipta seluruh makhluk, baik yang ada di langit maupun yang ada di dunia, baik yang nampak di pandangan manusia maupun yang tidak nampak dipandangan manusia. Dan seluruh makhluk ciptaan-Nya sangat berhajat kepada Allah SWT. Maka begitupun dengan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi akan menghasilkan kebahagiaan apabila perkara-perkara itu berhajat kepada Allah SWT, yaitu dimana dalam usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi ada perintah Allah SWT dengan cara Rasulullah SAW. Tetapi mana kala dalam usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi tidak ada perintah Allah SWT dengan cara Rasulullah SAW, maka pasti tidak ada kebahagiaan. Nabi Sulaiman a.s memiliki kerajaan yang besar, karena dia taat pada perintah Allah SWT maka dalam kerajaannya ada kebahagiaan. Sebaliknya dengan Fir'aun, dia juga memiliki kerajaan yang besar, tetapi karena dia tidak taat dan tidak beriman kepada Allah SWT maka dalam kerajaan dia tidak ada kebahagiaan, bahkan hanya kebinasaan. Nabi Yusuf a.s. bekerja di pemerintahan, karena dia taat kepada Allah SWT maka dalam pemerintahan ada kebahagiaan. Seballiknya haman pun bekerja di pemerintahan, tetapi karena dia tidak taat dan tidak beriman kepada Allah SWT maka dalam pemerintahan dia tidak ada kebahagiaan. Kaum Anshor sebagian besar bekerja di pertanian dan perkebunan, karena mereka taat kepada Allah SWT maka dalam pertanian dan perkebunan ada kebahagiaan. Sebaliknya, kaum Saba' pun memiliki pertanian, tetapi karena mereka tidak taat dan tidak beriman kepada Allah SWT, maka dalam pertanian mereka tidak ada kebahagiaan, bahkan yang ada cuma kehancuran.

Jadi usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) akan mendatangkan kebahagiaan apabila berhajat kepada Allah SWT, tetapi jika Allah SWT ingin memberikan kebahagiaan pada manusia Allah SWT tidak perlu berhajat kepada perkara-perkara yang dzohir tadi. Tetapi perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi bukanlah maksud dan tujuan diciptakan manusia, sebab semua perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi suatu saat nanti pasti akan ditinggalkan oleh manusia, tidak ada satu benda pun yang akan dibawa oleh manusia apabila datang waktu kematian.

Usaha yang kedua yaitu usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang ghoib (tidak nampak) adalah tujuan daripada diciptakan manusia. Perkara-perkara yang ghoib itu adalah iman, dan iman ini sangat penting, karena tujuan akhir manusia adalah alam akhirat, dan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat memerlukan iman dan amal yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Maka itulah kebahagiaan yang sebenarnya, kebahagiaan yang abadi. Sedangkan kebahagiaan hidup di dunia ini hanyalah sementara. Harta, pangkat, jabatan, pemerintah, istri dan anak, semuanya akan ditinggalkan, sedangkan yang dibawa hanyalah iman dan amal. Maka iman ini perlu diusahakan, agar iman wujud dalam hati sehingga amal-amal kita akan menjadi baik. Karena diterimanya amal-amal kita apabila ada iman yang benar dalam hati kita.

Bagaimana Usaha Atas Iman ini dibuat ?

Pertama, kita dakwahkan/sampaikan kepada orang-orang pentingnya iman, kita bicarakan kebesaran, keagungan dan kehebatan Allah SWT, bahwa semua makhluk tidak bisa memberikan manfaat dan mudhorot tanpa izin Allah SWT, makhluk tidak punya kuasa apa-apa, yang punya kekuasaan hanyalah Allah SWT. Sehingga dengan kita sering bicarakan pentingnya iman, kebesaran, keagungan dan kehebatan Allah SWT maka iman akan wujud dalam hati kita.
Kedua, kita duduk berkumpul dengan orang-orang soleh, membicarakan tentang iman, amal dan kehidupan akhirat. Kemudian kita mengajak orang-orang untuk duduk bersama membicarakan perkara-perkara tadi. Sehingga dengan demikian akan timbul semangat dalam diri kita untuk terus usaha mewujudkan iman dalam hati kita.
Ketiga, selalu berdoa kepada Allah agar kita diberikan hakikat iman yang benar, iman yang dikehendaki Allah SWT.

Maka untuk mendapatkan ketiga hal tersebut diatas kita harus siap mengorbankan harta, diri dan waktu kita untuk keluar di jalan Allah SWT 4 bulan, 40 hari, dan 3 hari.

Keluar di jalan Allah 4 bulan, 40 hari dan  3 hari adalah metode atau sarana tarbiyah untuk membentuk iman dalam hati kita, bukan maksud agar kita memiliki iman yang sempurna. Tetapi iman yang sempurna akan kita dapatkan apabila kita memberikan sisa umur kita untuk usaha Rasulullah SAW, bermujahadah di jalan Allah SWT dan menjadikan dakwah ini sebagai maksud hidup kita.

Dakwah sampai mati
Mati dalam dakwah

Insya Allah !!!!!!


wallahu alam bishshowab

Allah SWT Pencipta dan Pemelihara Seluruh Makhluk

    Dengan qudrat-Nya Allah SWT menciptakan segala sesuatu didunia ini, tetapi Allah SWT memperlihatkan kepada kita seolah-olah makhluk yang membuatnya. Padahal Allah SWT menciptakan alam semesta ini dan seluruh isinya hanya dengan kun fayakun, tanpa bantuan sedikitpun dari makhuk-Nya. Makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah SWT sekitar 18.000 jenis, sedang makhluk yang bernama manusia saat ini berjumlah kurang lebih enam milyar. Dibandingkan dengan jumlah jenis burung masih dua kali lebih banyak jumlah manusia, jumlah manusia ditambah dengan jumlah burung masih lebih banyak jumlah ikan.
    Allah SWT menciptakan ruang, dimensi dan waktu. Namun Allah SWT tidak bisa diukur dengan ruang, dimensi, dan waktu. Allah SWT mampu membuat satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Allah SWT mampu membuat ribuan tahun di alam akubur, tapi bagi orang - orang beriman waktu itu hanya sekejap, seperti tidurnya seorang pengantin. Allah SWT Maha Tinggi tapi tidak bisa diukur dengan ketinggian, Maha Besar tapi tidak bisa diukur dengan panjang kali lebar. Allah SWT tidak bisa diukur dengan volume atau massa jenis. Langit dan bumi tidak mampu menampung Dzat-Nya, jika Dia menampakkan pada sebuah gunung, maka hancurlah gunung itu. Hanya pada hati  orang yang beriman yang mampu menampung Dzat-Nya, tajalli kepada Allah SWT.
     Hanya Allah SWT yang mengetahui berapa banyak jumlah tetesan air hujan yang jatuh ke bumi dan jumlah butir - butir pasir di lautan. Hanya Allah SWT yang mengetahui berat sebuah gunung, dan besarnya gunung itu tidak dapat menghalangi pandangan-Nya.
    Secerdas apapun manusia, apakah dia seorang Einsten atau Isaac Newton, mereka hanya bisa meneliti apa yang nampak dari makhlukn cipataan-Nya. Mereka yang katanya cendekiawan dan ilmuwan itu ternyata hanya mengenal makhluk semata, tak pernah mengenal siapa yang menciptakan makhluk itu. Sebagaimana orang-orang kafir mempertuhankan sesuatu yang bisa diraba, dilihat  atau dibentuk.

Perintah Awal Melaksanakan Dakwah dan Tabligh serta Materi Dakwah Pada Siang dan Malam Hari

 Firman Allah SWT Qs. al Muddatstsir : 1 - 7 :

$pkš‰r'¯»tƒ ãÏoO£‰ßJø9$# ÇÊÈ   óOè% ö‘É‹Rr'sù ÇËÈ   y7­/u‘ur ÷ŽÉi9s3sù ÇÌÈ   y7t/$u‹ÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ   t“ô_”9$#ur öàf÷d$$sù ÇÎÈ   Ÿwur `ãYôJs? çŽÏYõ3tGó¡n@ ÇÏÈ   šÎh/tÏ9ur ÷ŽÉ9ô¹$$sù ÇÐÈ   

"Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan, dan Agungkanlah Rabbmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah perbuatan dosa, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh balasan yang lebih banyak, dan untuk memenuhi perintah Robb mu,bersabarlah"


Perintah ini nampaknya mempunyai maksud dan tujuan yang sangat sederhana, namun berpengaruh sangat kuat dan nyata, yaitu :
1.   Meninggalkan kenikmatan duniawi dan memberi peringatan tentang akibat yang pedih pada hari kemudian bagi siapa saja yang ingkar, serta janji - janji Allah SWT bagi orang yang taat kepada-Nya.
2.   Mengagungkan (menyampaikan) kebesaran Allah SWT, bahwa seluruh kejayaan dan kesuksesan makhluk ada dalam genggaman Allah SWT.
3.   Mengamalkan lebih dahulu apa yang disampaikan dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
4.   Larangan mengharap dan meminta imbalan dari apa yang diberikan, apakah itu berupa pujian, pangkat, jabatan, harta dan sebagainya. Agar manusia lebih banyak berkorban harta dan diri dan merasa tidak berkorban dihadapan Allah SWT.
Bersabar dalam setiap menghadapi segala sesuatu yang akan menimpa dirinya, hanya mengharap keridhoan Allah SWT.