Senin, 11 Juli 2011

Usaha Atas Iman

Di dunia ini ada 2 usaha. yang pertama adalah usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) atau menghasilkan kebendaan-kebendaan, dan usaha yang kedua adalah untuk menghasilkan perkara yang ghoib (tidak nampak).

Usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) atau usaha untuk menghasilkan kebendaan-kebendaan yaitu dengan perdagangan orang bisa mendatangkan keuntungan, dengan pertanian orang bisa mendatangkan hasil dari pertanian, dengan perkantoran orang bisa mendapatkan gaji, dengan pemerintahan orang bisa mendapatkan jabatan, dsb. Maka hari ini hampir semua manusia telah buat usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi, dan manusia menyangka bahwa dengan menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) maka manusia akan mendapatkan kebahagiaan, sehingga manusia rela bekerja siang dan malam tanpa mengenal lelah untuk mendapatkan penghasilan yang dzohir (nampak) tadi, bahkan ada sebagian manusia yang menggunakan segala macam cara baik yang dikehendaki Allah bahkan yang dilarang oleh Allah SWT semata-mata untuk mendapatkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi. Bahkan manusia rela mengorbankan satu keinginan untuk keinginan yang lain yaitu menuju usaha yang menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi. Seorang pegawai ketika waktu pagi hari sedang asik bercanda dan bermain dengan anak dan istri di rumah, ketika sedang asik-asiknya bermain maka tiba waktu dia harus ke kantor, maka dia rela korbankan kepentingan bersama anak dan istrinya untuk menuju kepada kantor dia. Seorang tentara ketika sedang asik bercanda dan bermain dengan anak dan istrinya di rumah, maka ketika datang perintah dari komandan untuk pergi tugas ke tempat yang jauh meninggalkan anak dan istrinya di rumah, maka dia pun siap mengorbankan waktu bersama anak dan istrinya kemudian menuju kepada perintah komandan tadi. Karena hari ini manusia yakin bahwa dengan perkara-perkara yang dzohir (nampak) maka akan ada kebahagiaan.

Allah SWT pencipta seluruh makhluk, baik yang ada di langit maupun yang ada di dunia, baik yang nampak di pandangan manusia maupun yang tidak nampak dipandangan manusia. Dan seluruh makhluk ciptaan-Nya sangat berhajat kepada Allah SWT. Maka begitupun dengan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi akan menghasilkan kebahagiaan apabila perkara-perkara itu berhajat kepada Allah SWT, yaitu dimana dalam usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi ada perintah Allah SWT dengan cara Rasulullah SAW. Tetapi mana kala dalam usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi tidak ada perintah Allah SWT dengan cara Rasulullah SAW, maka pasti tidak ada kebahagiaan. Nabi Sulaiman a.s memiliki kerajaan yang besar, karena dia taat pada perintah Allah SWT maka dalam kerajaannya ada kebahagiaan. Sebaliknya dengan Fir'aun, dia juga memiliki kerajaan yang besar, tetapi karena dia tidak taat dan tidak beriman kepada Allah SWT maka dalam kerajaan dia tidak ada kebahagiaan, bahkan hanya kebinasaan. Nabi Yusuf a.s. bekerja di pemerintahan, karena dia taat kepada Allah SWT maka dalam pemerintahan ada kebahagiaan. Seballiknya haman pun bekerja di pemerintahan, tetapi karena dia tidak taat dan tidak beriman kepada Allah SWT maka dalam pemerintahan dia tidak ada kebahagiaan. Kaum Anshor sebagian besar bekerja di pertanian dan perkebunan, karena mereka taat kepada Allah SWT maka dalam pertanian dan perkebunan ada kebahagiaan. Sebaliknya, kaum Saba' pun memiliki pertanian, tetapi karena mereka tidak taat dan tidak beriman kepada Allah SWT, maka dalam pertanian mereka tidak ada kebahagiaan, bahkan yang ada cuma kehancuran.

Jadi usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang dzohir (nampak) akan mendatangkan kebahagiaan apabila berhajat kepada Allah SWT, tetapi jika Allah SWT ingin memberikan kebahagiaan pada manusia Allah SWT tidak perlu berhajat kepada perkara-perkara yang dzohir tadi. Tetapi perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi bukanlah maksud dan tujuan diciptakan manusia, sebab semua perkara-perkara yang dzohir (nampak) tadi suatu saat nanti pasti akan ditinggalkan oleh manusia, tidak ada satu benda pun yang akan dibawa oleh manusia apabila datang waktu kematian.

Usaha yang kedua yaitu usaha untuk menghasilkan perkara-perkara yang ghoib (tidak nampak) adalah tujuan daripada diciptakan manusia. Perkara-perkara yang ghoib itu adalah iman, dan iman ini sangat penting, karena tujuan akhir manusia adalah alam akhirat, dan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat memerlukan iman dan amal yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Maka itulah kebahagiaan yang sebenarnya, kebahagiaan yang abadi. Sedangkan kebahagiaan hidup di dunia ini hanyalah sementara. Harta, pangkat, jabatan, pemerintah, istri dan anak, semuanya akan ditinggalkan, sedangkan yang dibawa hanyalah iman dan amal. Maka iman ini perlu diusahakan, agar iman wujud dalam hati sehingga amal-amal kita akan menjadi baik. Karena diterimanya amal-amal kita apabila ada iman yang benar dalam hati kita.

Bagaimana Usaha Atas Iman ini dibuat ?

Pertama, kita dakwahkan/sampaikan kepada orang-orang pentingnya iman, kita bicarakan kebesaran, keagungan dan kehebatan Allah SWT, bahwa semua makhluk tidak bisa memberikan manfaat dan mudhorot tanpa izin Allah SWT, makhluk tidak punya kuasa apa-apa, yang punya kekuasaan hanyalah Allah SWT. Sehingga dengan kita sering bicarakan pentingnya iman, kebesaran, keagungan dan kehebatan Allah SWT maka iman akan wujud dalam hati kita.
Kedua, kita duduk berkumpul dengan orang-orang soleh, membicarakan tentang iman, amal dan kehidupan akhirat. Kemudian kita mengajak orang-orang untuk duduk bersama membicarakan perkara-perkara tadi. Sehingga dengan demikian akan timbul semangat dalam diri kita untuk terus usaha mewujudkan iman dalam hati kita.
Ketiga, selalu berdoa kepada Allah agar kita diberikan hakikat iman yang benar, iman yang dikehendaki Allah SWT.

Maka untuk mendapatkan ketiga hal tersebut diatas kita harus siap mengorbankan harta, diri dan waktu kita untuk keluar di jalan Allah SWT 4 bulan, 40 hari, dan 3 hari.

Keluar di jalan Allah 4 bulan, 40 hari dan  3 hari adalah metode atau sarana tarbiyah untuk membentuk iman dalam hati kita, bukan maksud agar kita memiliki iman yang sempurna. Tetapi iman yang sempurna akan kita dapatkan apabila kita memberikan sisa umur kita untuk usaha Rasulullah SAW, bermujahadah di jalan Allah SWT dan menjadikan dakwah ini sebagai maksud hidup kita.

Dakwah sampai mati
Mati dalam dakwah

Insya Allah !!!!!!


wallahu alam bishshowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar